namun sangat disayangkan baterai ion lithium saat ini masih menggunakan elektrolit cair dalam penggunaannya. Elektrolit cair sangat mudah terbakar dan memiliki banyak dampak negatif, baik terhadap pengguna maupun lingkungannya.
salah satu komponen alternatif yang dapak digunakan sebagai pengganti elektrolit cair adalah elektrolit padat yang aman dan lebih ramah lingkungan,
selain itu baterai lithium yang memakai polimer padat juga memiliki keunggulan dapat diisi ulang. Hingga sesuai dengan kebutuhan manusia pada jaman sekarang.
Berangkat dari permalasahan diatas, Prof. Dr. I Made Arcana. Mengadakan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan elektrolit polimer baru.
Chitosan sebagai material utama
Chitosan merupakan sebuah senyawa
polimer alami yang dapat diperoleh dari deasetilasi kitin. Sayangnya,
penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya menunjukkan bahwa chitosan
masih memiliki konduktivitas ion yang rendah, bahkan setelah penambahan garam
lithium asetat.
karena itu Arcana berusaha mengembangkan elektrolit polimer baru. Meskipun konduktivitas ionnya memadai,
baterai dengan elektrolit polimer baru ini diharapkan tetap dapat memenuhi
kebutuhan baterai lithium polimer yang aman bagi pengguna dan ramah lingkungan.
Kembangkan Membran Elektrolit Polimer dari Limbah Kulit Udang
Arcana melihat melimpahnya limbah kulit udang yang belum
dimanfaatkan secara optimal di Indonesia sebagai sebuah peluang. Udang yang
merupakan hewan berkelas crustacean memiliki kulit rangka luar yang tersusun
dari kitin, sebuah polimer yang paling melimpah di laut. Deasetilasi kitin
dapat menghasilkan sebuah senyawa polimer alami chitosan, yang telah banyak
dimanfaatkan untuk elektrolit polimer.
Sebagai langkah awal, dilakukan penghilangan protein pada limbah
kulit udang dengan proses deproteinasi, dan diikuti dengan penghilangan mineral
dengan proses demineralisasi. Kulit udang yang telah mengalami kedua proses
tersebut kini tak mengandung protein dan mineral lagi, sehingga diperoleh kitin
murni yang siap diproses lebih lanjut melalui proses deasetilasi menjadi
chitosan. Chitosan yang diperoleh dari isolasi limbah kulit udang kemudian
dilarutkan bersama polietilen oksida (PEO) dan lithium perklorat sebagai garam
pengion dalam pelarut yang sesuai, dan dicampur hingga homogen. Larutan polimer
ini kemudian dituangkan di atas cawan petri sehingga pelarut dapat menguap.
Penelitian menunjukkan peningkatan konduktivitas ion hingga 4
kali dengan penggunaan chitosan yang diperoleh dari isolasi kulit kerang.
Bahkan, konduktivitas membran polimer campuran chitosan, polietilen oksida, dan
lithium ini dapat dimaksimumkan hingga 10 kali lipat dengan penambahan lithium
perklorat. Membran elektrolit polimer inilah yang dapat dimanfaatkan secara
potensial sebagai elektrolit polimer pada aplikasi baterai lithium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar