Laman

Minggu, 13 Januari 2013

ANGIN DI TANGKUBAN PERAHU


Desember 2011

Musim liburan tiba. Saya beserta keluarga memutuskan untuk pergi liburan ke salah satu icon jawa barat yaitu Bandung. Kami memtuskan liburan di kota kembang jawa barat ini. Sekalian bersilaturahmi dengan beberapa orang saudara. Saya memang tidak begitu mengenali saudar-saudara saya. Karena memang kami jarang bertemu apalagi membuta acara bersama, itu sangat jarang kami lakukan.

Alhsil saya hanya bisa duduk melamun melihat orang-orang disekitar saya yang sedang asyik berbincang dan bercanda. Sesekali saya menjawab pertanyaan-pertanyaan basa basi yang diajukan bebearapa saudara saya. Puas ngobrol dan melamun saya beserta keluarga melanjutkan perjalanan kearah Lembang.
Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi mataharipun terbenam. Digantikan oleh cahaya sinar rembulan. Kami memutuskan menginap disalah satu hotel masih bertempat dikawasan Lembang. Hotel yang tidak terlau mewah, namun pelayanan dihotel ini terbilang bagus. Lebih baik menginap dipenginapan biasa ini, dari pada menginap dipenginapan mewah itu pikir saya.

Pagi tiba sinar matahari perlahan mengeringkan embun dan menghilangkan kabut yang turun semalam. Suasana pagi itu masih sangat tenang. Semua seolah berjalan sangat lambat. Menikmati udara pagi di kota Lembang memang sungguh nikmat. Aroma-aroma khas makanan kaki lima mewarnai pagi saya di kota ini. Kami menikmati beberapa jajanan pasar sebagai menu sarapan pagi ini.

Matahari mulai meninggi. Kami memutuskan untuk pergi. Kami memutuskan untuk pergi berekreasi kesalah satu tempat wisata di kota Lembang. Kami pergi ke Tangkuban perahu. Perlahan mobil yang kami tumpangi bergerak meninggalkan hotel menuju kawasan yang lebih tinggi dan lebih dingin lagi. Terlihat jajaran pohon pinus, karet dan jati berdiri kokoh sepanjang jalan. Suasana hutan makin terasa setelah memasuki kawasan Tangkuban perahu.

Setibanya disana saya beserta keluarga pergi melihat-lihat pemandangan sekitar. Tak jarang pula saya melihat beberapa turis mancanegara. Rasa penasaran kembali merasuki saya dan beberapa anggota keluarga. Saya dan kedua orang kakak saya pergi mengitari kawah. Sepanjang perjalanan saya hanya melihat beberapa rumah makan dan penjual pernak-pernik.

Kami berjalan makin jaauh dan memasuki hutan. Awalnya disamping kiri dan kanan kami banyak turis yang juga berjalan untuk megitari kawah ini. Namun lama kelamaan mereka semua berkurang satu persatu. Samapai pada disuatu titik di kawasan ini. Hanya tinggal kami bertiga. Perlahan hawa yang kurang menyenangkan datang mengitari tubuh kami. Kami merasa sedang diawasi oleh sesuatu, namun kami tidak tau apa itu.

Semakin masuk kedalam hutan. Perasaan mencekam makin terasa. Saya pernah merasakan perasaan ini dan saya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Salah satu kakak saya juga merasakan hal yang sama.
Namun tidak lama kami berjalan angin kencang yang entah dari mana datangnya berputar disekeliling kami. Padahah langit sama sekali cerah tanpa awan sedikitpun. Angin itu terus berputar menerbangkan daun dan ranting yang berada disekitar kami. Setelah angin yang eneh itu pergi meninggalkan kami. Kami tiba-tiba berhenti pada suatu titik di kawah itu.

Pelan terdengar suara aneh dari balik semak yang berada disebelah kanan saya. Saura itu memang pelan namun saya tahu bunyi apa itu. Itu adalah suara harimau yang menggeram. Namun suara itu perlahan pergi menghilang dibawa angin. Kami bertiga hanya bisa diam mendengar geraman harimau tadi dan kami memutuskan untuk  kembali. Dari pada terjadi hal yang tidak kami inginkan.

Selang beberapa minggu dari kejadian itu. Ibu saya memang suka membeli satu majalah yang menceritakan sesuatu yang berbau mistis. Dari bacaan tersebut saya membaca salah satu bacaan dimajalah itu. Bacaan itu menceritkan tentang Tangkuban perahu. Dari bacaan tersebut saya jadi tahu. Memang ada sesosok mahluk halus berwujud harimau yang mendiami kawasan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar